AGAMAKU ADALAH JURNALISTIK

AGAMAKU ADALAH JURNALISTIK

Gambar

   Agama islam adalah agama yang turun dari langit melalui di wahyukannya alqur’an kepada nabi melalui perantara malaikat jibril yang berupa al-quran. Namun esensi dari pada wahyu adalah sebuah berita dan penyampaian wahyu kepada nabi muhammad SAW itu lewat perantara malaikat jibril bisa dikatakan “ Agama Islam Diberitakan dari allah kepada nabi muhammad melalui malaikat jibril” dan para sahabat mengumpulakan wahyu al-quran dalam bentuk tulisan, agar dapat terus berkembang dan tidak hilang dari masa ke-masa.

Firman Allah dalam surah al-anfal ayat 12:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (١٢)

 

12. (ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Jadi hakikatnya agam islam yang selama ini kita buat pedoman adalah berawal dari sebuah jurnalistik. Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pen­dapat:

  1.   Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah de­ngan lafalnya yang khusus.
  2.   Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfuz.
  3.   Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad s.a.w.

Pendapat pertama itulah yang benar; dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, serta diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam’an yakni:

“Hadis dari Nawas bin Sam’an r.a. yang mengatakan: Rasulullah s.a.w. berkata: Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu, maka langit pun tergetarlah dengan getaran atau dia mengatakan dengan goncangan yang dahsyat karena takut kepada Allah ‘azza wa Jalla. Apabila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka di antara mereka itu adalah Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang dikehendakiNya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu: Apakah yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang hak dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah azza wa jalla.” (HR. Thabrani).

Dari hadis di atas dapat kita fahami bahwa memang agama islam dapat di terima oleh semua kalangan di karenakan setiap penyebaranya salah satunya menggunakan berita. Dan ada sebuah pepatah mengatakan sesuatu yang penting yang terdapat dalam sebuah berita adalah esensinya yaitu “Dengan berita seseorang dapat merubah dunia hanya dengan kata-kata” jurnalis bukan sebatas ‘alat’ pekerja untuk mencapai tujuan perusahaan, memberikan informasi kepada publik atau memperoleh profit, melainkan sebagai ‘nyawa’ dari keberlangsungan hidup tentang visi dan misi yang dijunjung suatu news media. Diantara keduanya terdapat harmoni dimana kerja-kerja mencerdaskan publik nantinya akan menghasilkan masyarakat haus informasi dan ‘aware’ terhadap fenomena disekitar mereka.

Kalimat sering di ucapkan jurnalis nasional, Andreas Harsono dalam bukunya yang berjudul “AGAMAKU ADALAH JURNALISME”

“Senjataku tidak menembakan peluru ke targetnya, tidak juga mencecerkan darah ketika melukai targetnya.Aku tidak melakukan pengisian-ulang amunisi selama ‘keyakinan’ dan independensiku tak tergoyahkan. Aku adalah Jurnalis yang akan merubah dunia.”

Pada dasarnya seorang jurnalis dapat mengombang ambingkan setiap orang dan dapat mengelabuhi setiap penerimanya. Jika dalam suatu wilayah ada dua orang yang bertikai maka seorang jurnalis mampu mendamaikannya, bahkan bisa juga dia membuat mereka saling bunuh membunuh.

Bagi jurnalis, media tidak sebatas ‘alat’ kendaraan profesi, melainkan ruang ‘sensitif’ dalam menyalurkan informasi, inspirasi serta keyakinan diri, sementara bagi media, Untuk mendapatkan informasi atau berita, maka ini adalah tugas seorang wartawan (jurnalis). Kegiatan jurnalistik, telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Surat ajakan masuk Islam kepada Kaisar Persia, merupakan suatu kegiatan jurnalistik, lebih dari itu pembukuan al-Quran yang kita kenal dengan mushaf dalam perspektif jurnalistik, al-Quran adalah karya jurnalistik juga, yakni diformat dalam buku yang isinya firman-firman Allah SWT. Demikian pula, termasuk karya jurnalistik adalah kitab-kitab kumpulan hadis seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dan sebagainya. Semua kegiatan ini adalah profesi seorang wartawan (jurnalis).

Profesi sebagai wartawan (jurnalis) dalam masyarakat sangatlah penting, sama pentingnya dengan peran yang dimainkan oleh para ilmuwan, cendikiawan dan para ulama. Seorang wartawan harus memberikan informasi yang akurat, lengkap, jelas, jujur serta aktual, dan juga dapat memberikan prediksi serta petunjuk ke arah perubahan dan transformasi. Selain itu wartawan pula harus mempertanggungjawabkan berita yang didapatkannya. Meskipun pekerja jurnalistik memiliki kebebasan, namun tidak dapat terlepas dari tanggungjawab.

.Seorang wartawan yang melebih-lebihkan sebuah berita dengan maksud untuk membuat berita itu lebih heboh dan sensasional merupakan pelanggaran etis. Wartawan yang dengan mudah tergoda untuk memperuncing fakta-fakta dengan menghilangkan sebahagian berita, menfokuskan suatu detail yang kecil tetapi menyentil, atau dengan memancing kutipan-kutipan yang provokatif, yang tujuannya bukanlah untuk mengatakan suatu kebenaran melainkan untuk menarik perhatian. Wartawan seperti inilah yang melanggar etika dalam jurnalistik.

Oleh karena itu yang dibutuhkan seorang wartawan adalah kejujuran. Kejujuran dalam mengumpulkan data, mengola dan menyajikan berita, sehingga wartawan harus memahami tentang etika dalam jurnalistik. Maka di buatlah sebuah kode etik jurnalistik untuk mengatur jalannya pemberitaan di media masa.

Kode etik jurnalistik merupakan seperangkat aturan atau norma-norma yang di berlakukan bagi seorang jurnalistik. Allah Berfirman dalam surah an-nahl ayat 116:

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ (١١٦)

 

116. dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung.

Jadi kode etik jurnalistik itu termasuk kejujuran, dan dalam agama islam kejujuran adalah pangkal dari segala amal. Maka seyogyanya seorang jurnalis tidak boleh memberitakan suatu yang benar dan tidak menambah atau mengurangi suatu berita.

Amanah dalam menyampaikan sebuah berita tidak berpihak pada satu sisi atau berat sebelah dalam menyampaikan berita ada sebuah ungkapan dari para ulama’ “MAN ADZUBA LISANUHU KATSURO IKHWANUHU” Barang siapa yang perkataanya baik maka banyak kawannya (temananya). Nah agama kita saja mengajarkan yang demikian hebatnya caramenjadi seorang jurnalis yang hebat, jadi kesimpulannya adalah ketika kita melihat segala fenomena awal turunnya agama islam adalah juga lewat berita dan jurnal terindah sepanjang zaman adalah kitabullah ya’ni Al-Quranul kariim yang memberikan kita petunjuk jalan menuju keridhaan Allah SWT.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s