Kebebasan Adalah Aturan

The Freedom is Regulation

 (Kebebasan adalah sebuah peraturan)


Sebagian dari kita masih saja menganggap bahwa demokrasi adalah kebebasan individu yang sebebas-bebasnya. Negara demokrasi akhirnya dimaknai sebagai Negara yang menganut faham kebebasan sebebas-bebasnya, tanpa ada aturan. Padahal menurut saya bukan demikian. Kebebasan individu” mempunyai pengertian dan kesimpulan yang berbeda. Kebebasan tidak mudah untuk diartikan namun juga tidak mudah untuk diwujudkan, karena sebenarnya kebebasan itu sendiri adalah aturan yang dibuat secara tidak sadar (naluriyah) atau biasa disebut insting. Bicara mengenai kebebasan tidak terlepas dari adanya beberapa pandangan para tokoh, baik tokoh agama dan politik. Istilah kebebasan dan kemerdekaan umumnya dipahami sebagai persamaan kata “freedom” dan

”liberty”, artinya keadaan dimana seseorang bebas dari dan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Yang disebut pertama adalah kebebasan negatif, dimana segala bentuk pengaturan dan pembatasan berupa suruhan, larangan ataupun ajaran, dianggap berlawanan dengan kebebasan; manakala yang kedua (bebas untuk) dinamakan kebebasan positif, dimana seseorang boleh menentukan sendiri apa yang ia kerjakan.

Bagi seorang Muslim, kebebasan mengandung tiga makna sekaligus. Pertama, kebebasan identik dengan fitrah’  yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah, dicemari, dan dirusak oleh sistem kehidupan di sekelilingnya. Seperti kata Nabi SAW: ‘kullu mawludin yuladu ‘ala l-fitrah’. Setiap orang terlahir sebagai mahluk dan hamba Allah yang suci bersih dari noda kufur, syirik dan sebagainya. Namun orang-orang di sekelilingnya kemudian mengubah statusnya tersebut menjadi ingkar dan angkuh kepada Allah.

Maka orang yang bebas ialah orang yang hidup selaras dengan fitrahnya, karena pada dasarnya ruh setiap manusia telah bersaksi bahwa Allah itu Tuhannya. Sebaliknya, orang yang menyalahi fitrah dirinya sebagai abdi Allah sesungguhnya tidak bebas, karena ia hidup dalam penjara nafsu dan belenggu syaitan.

Ahli tafsir abad keempat Hijriah, ar-Raghib al-Ishfahani, dalam kitabnya menerangkan dua arti bebas (hurr): pertama, bebas dari ikatan hukum; kedua, bebas dari sifat-sifat buruk seperti rakus harta sehingga diperbudak olehnya. Pengertian kedua inilah yang  disebutkan Nabi saw dalam sebuah hadis sahih: Celakalah si hamba uang (ta‘isa ‘abdu d-dinar’).

Makna kedua dari kebebasan adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak (masyi’ah) atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-masing. Apakah jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim) ataukah jalan yang lekuk. Apakah jalan yang terjal mendaki ataukah jalan yang mulus menurun. Apakah jalan para nabi dan orang-orang sholeh, ataukah jalan syaitan dan orang-orang sesat. ‘Siapa yang mau beriman, dipersilakan. Siapa yang mau ingkar, pun dipersilakan’ (fa-man sya’a fal-yu’min, wa man sya’a fal-yakfur), firman Allah dalam al-Qur’an (18:29).

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (٢٩)

29. dan Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Kebebasan di sini melambangkan kehendak, kemauan dan keinginan diri sendiri. Bebasnya manusia berarti terpulang kepadanya mau senang di dunia ataukah di akhirat. Firman Allah: ”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS al Isra’:18-19)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (١٨)

18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.

وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (١٩)

19. dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS asy Syura:20).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (٢٠)

20. barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Terserah padanya apakah mau tunduk atau durhaka kepada Allah. Apakah mau menghamba kepada sang Khaliq atau mengabdi kepada makhluk. Sudah tentu, kebebasan itu bukan tanpa konsekuensi dan pertanggungjawaban.

Dan benarlah firman Allah bahwa tidak ada paksaan dalam agama  ‘la ikraha fi d-din’ (2:256).

Setiap manusia dijamin kebebasannya untuk menyerah ataupun membangkang kepada Allah, ber-Islam ataupun kafir. Mereka yang ber-Islam dengan sukarela (thaw‘an) lebih unggul dari mereka yang ber-Islam karena terpaksa (karhan), apalagi dibandingkan dengan mereka yang kafir dengan sukarela.

Ketiga, kebebasan dalam Islam berarti  memilih yang baik’ (ikhtiyar).sesuai dengan akar katanya, ikhtiar menghendaki pilihan yang tepat dan baik, yang mengakibatkan baik ataupun buruk.

Oleh karena itu, orang yang memilih keburukan, kejahatan, dan kekafiran itu sesungguhnya telah menyalahgunakan kebebasannya. Sebab, pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr). Di sini kita dapat mengerti mengapa dalam dunia manusia tidak dibiarkan bebas untuk membunuh manusia lain.

Jadi, dalam tataran tertentu, kebebasan sejati mencerminkan ilmu dan adab, manakala kebebasan palsu mencerminkan kebodohan dan keterbelakangan. Kebebasan seharusnya dipandu ilmu dan adab supaya tidak merusak tatanan kehidupan. Agar membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam bentuk inilah seorang Muslim memahami firman Allah: ”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (QS. Fushshilat:46).

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ (٤٦)

46. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya.

Maka janganlah kebebasan itu menyebabkan kebablasan, sebab kebebasan sendiri memiliki batas seperti halnya sebuah aturan yang memiliki batas ukuran untuk menentukan aturan yang menjadi sebuah pedoman.

Logikanya kebebasan merupakan bentuk sebuah lingkaran atau sebuah kubus yang di dalamnya terdapat garis pembatas, jika garis tersebut diumpamakan aturan atau sebuah hukum maka apabila seseorang keluar dari sebuah kubus ataupun lingkaran, dia akan menjumpai lingkaran lagi yang lebih besar atau sebuah kubus lagi yang lebih besar, begituah sunnatullah yang berlaku di alam semesta ini.

Kebebasan manusia yang sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para ahli fikir bahkan ahli dzikir. Para agamawan mulai mempertanyakan kembali hakekat kebebasan pada diri manusia, bahwa sejauh mana sebenarnya manusia memiliki kebebasan/kemerdekaan?
Apa makna kebebasan/kemerdekaan itu sesungguhnya?

Kebebasan merupakan sebuah tindakan atau perbuatan  yang bermula dari kehendak untuk melakukan. Sementara menurut Prof. Dr Driyarkara, seorang filsuf Indonesia kontemporer, menulis dalam bukunya
bahwa kemerdekaaan atau kebebasan merupakan kekuasaan untuk menentukan diri
sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat.

Kebebasan merupakan hak individu untuk
menggunakannya atau tidak ada seorang pun yang mampu untuk memaksa
seseorang terkait kebebasan yang dimilikinya. Manusia memiliki sebuah kemauan
serta dorongan untuk melakukan, sehingga kebebasan muncul dari kedua hal itu.
Sebagai contoh riil, ketika seorang yang bertambuh gemuk memiliki kemauan
untuk kurus, maka akan tercipta dorongan untuk mengurangi jatah makannya setiap hari. Di sanalah muncul kebebasan bagi dia untuk melakukan hal itu.

Bisa kita tarik sebuah kesimpulan setiap kebebasan hakikatnya adalah aturan yang menjadi pilihan. Demikian tulisan ini saya sampaikan, semoga bermanfaat……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s