UBAHLAH APA YANG BISA DI UBAH & SYUKURI APA YANG TIDAK BISA DI UBAH

UBAHLAH APA YANG BISA DI UBAH

&

SYUKURI APA YANG TIDAK BISA DI UBAH

Dalam sebuah Buku Yang berjudul Menyingkap takdir ilahi karangan Dr.M.Chusnul hakim MA. Beliau Memberikan Gambaran Bahwa sebuah takdir dapat di ubah, dan pernyataan ini senada dengan perkataan wakil rektor INSTITUT PTIQ JAKARTA, Dr.Ali Nurudin MA. Mengatakan bahwasanya Takdir merupakan ketentuan Allah sejak zaman azali. seperti yang kita tahu takdir di bagi menjadi dua bagian yang pertama takdir mubram dan takdir muallaq.
Takdir mubram merupakan ketentuan Allah yangtak dapat di ubah seperti: Kelahiran & Kematian, Kita semua tidak bisa memilih mau dilahirkan dari Rahim siapa..? mau mati kapan dan di mana..? kita semua tak bisa memilihnya apalagi mengusahakannya.
Akan tetapi berbeda dengan takdir muallaq, takdir muallaq yaitu merupakan takdir yang manusia dapat mengupayakan / mengusahakannya jika dia ingin mencapainya seperti: cita-cita,jodoh,rezeqi,dsb. Orang bisa memilih tyakdirnya apakah dia mau jadi seorang Profesor, dia mau menikah dengan orang arab, dia mau jadi seorang jutawan, semua itu manusia bisa mengusahakannya, Oleh sebab itu manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan taqdirnya dan seberapa besar usaha yang dapat dilakukannya, hal ini sejalan dengan pemahaman aliran Qodariyah dan Aliran Mu’tazilah namun perlu digaris bawahi bahwa faham semacam ini terkadang perlu kita lakukan sebab jika tidak maka kita akn tertinggal dengan globalisasi yang sudah mendunia.
bukankah Allah telah berfirman: dalam surah 13 ( Ar-ra’ad ayat 11 )
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١)

(11). bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Sangat jellas bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum/golongan sebelum mereka sendiri merubahnya, ini lah yang menjadi pijakan dasar akan sebuah proses terjadinya sebuah perubahan tentang konsep takdir Allah.
Juga di jelaskan dalam surah 18 (Al-kahfi ayat 29) Allah SWT berfirman:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (٢٩)

29. dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”.
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Dalam surah alkahfi ini jelas allah memberikan sebuah kebebasan kepada manusia untuk memilih sebuah jalan yakni yang pertama manusia di beri jalan untuk sebuah kebaikan dan yang kedua jalan untuk sebuah keburukan tergantung, manakah yang akan dia pilih.
Inilah tanda kekuasaan Allah, dan hak prerogratif Allah dalam memuliakan hambanya yang bernama manusia. Tidak ada makhluk Allah yang diciptakan selain manusia yang mempunyai kehendak seperti halnya manusia, sebab manusia adalah sebak-baik penciptaan. Seperti dijelaskan firman Allah: dalam surah (As-sajadah Ayat 8)
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ (٧)

7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Jika kita lihat pengertian Takdir ini sendiri adalah sebuah ketentuan Allah yang sudah ada sejak zaman azali, namun Allah juga emberikan sebuah kebebasan terhadap hambanya untuk memilih takdirnya sendiri, Aliran mu’tzilah berpendapat Allah bukanlah pencipta segala perbuatan pada diri manusia akan tetapi manusia itu sendirilah yang mencipatakan segal perbuatanya, bukan Aliran Mu’tazilah ini tidak percaya akan konsep Biidznillah, akan tetapi aliran ini mencoba menghilangkan sifat-sfat Allah dari segala bentuk perbuatan makhluknya.
Seperti halnya faham Qodariyah yang mengatakan segala bentuk perbuatan manusia baik dan burknya tidak ada intervensi tuhan dalam segala bentuk perbuatan manusia,
Yang dimana manusia di berikan Free Will & Free Act, (Kebebasan Berkehendak dan Kebebasan berbuat)
Aliran Qodariyah dan Mu’Tazilah keduanya sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Allah.dan pandangan tentang sebuah takdir itu merupakan bentuk sunnatullah.
Maka seyogyanya kita semua berusah amewujudkan cita-cita dan harapan kita karena kita tahu bahwa kita adalah manusia yng diberikan kebebasan untk menentukan taqdir kita, seberapa besarkah usaha kita untuk mewujudkannya….??
Jangan pernah berpangku tangan dan hanya bilang semua ini terjadi memang sudah terjadi karena kehendak Allah semata.tanpa kita berusah, ini adalah sebuah kesalahan besar.
Jika takdir bisa kita ubah, mengapa tidak kita rubah, ketika kita ingin meraih sebuah keinginan maka kita harus berusaha dan bertawakkal pada Allah. Seperti ketika kita mau melangkah untuk berubah jangan ada perasaan ragu untuk merubah keadaan untuk sebuah tujuan yang baik.
Seprti sebuah “moto” untuk kehidupan kita, sebagai contoh ketika kita menginginkan menjadi anak seorang presiden atau menjadi anak banagsawan kita tidak bisa memilihnya. Inilah takdir “mubram” Allah.
Akan tetapi jika kita berusaha untuk menjadi seorang saudagar kaya dan kita berusaha sampai batas kemampuan kita namun belum juga kita dapatkan hasilnya, maka di sinilah takdir mubram Allah berperan yang patut kita syukuri dan kita yakini.
Hal ini Berbeda menurut pandangan Mu’tazilah & Qadariyah Mereka menolak takdir mubram Allah, mereka mengatakan bahwa segala sesuatu pasti ada balasannya jadi jika seseorang sudah berusaha maka Allah tidak akan menyia-nyiakan usahanya berdasarkan firman Allah:dalam surah 99 (Al-adiyat)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (٨)
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
Anda boleh sependapat dengan Mu’tazilah & Qodariyah mereka mengatakan demikian karena mereka punya dasar hukum dan alasan. Ada baiknya juga bila seseorang ingin maju,ingin berhasil maka harus mengambil keyakinan faham alira Mu’tazilah & Qodariyah.
Akan tetapi di satu sisi kita perlu melihat lagi bahwa ada faham fatalis atau jabariyah mereka menganggap semua perbuatan sudah diciptakan Allah sejak zaman azali atau bisa disebut takdir “mubram” jadi kit ahnya menjalani hidup seperti robot yang bergerak mengalir tanpa ada usaha, berjalan seperti air mengalir. Keadaan ini juga baik menerima semua takdir Allah tanpa ada rasa kecewa. Namun kita lihat hal ini justru mendorng manusia untuk tawakkal tanpa usaha pasrah dan hanya pasrah saja. Dia tidak bisa melakukan usah untuk mewujudkan sesuatu yang dia inginkan sebab terbatasi faham (semua sudah di atur), maka faham demikian tidaklah lerefan kalu kita gunakan dizaman sekarang ini.
Kita cenderung kepada faham Mu’tazilah dan Qadariyah, idealnya kita menggabungkan kedua-duanya agar kita menjadi pribadi yang bijak dan menjadi orang yang pandai bersyukur menerima semua keadaan. Mungkin faham jabariyah atau Fatalis ini kita beri porsi no xx , kita letakkan yang paling belakang.
Sebab jika kita tidak mengambil faham ini kita menjadi orang yang takabbur dan orang yang tidak bisa menerima keadaan.
Tapi demikian yang perlu kita garis bawahi dari pernyatan di atas adalah Allah memberikan takdir “muallaq” artinya takdir yang bisa kita pilih untuk melakukannya atau tidak kita pilih, tergantung takdir itu baik atau buruk yang akan kita pilih.
Kita harus bersyukur jika suatu takdir yang tidak dapat kita ubah merupakan sebuah sunnatullah yang harus kita syukuri karena di setiap kejadian dibalik sebuah peristiwa disitu terdapat hikmah yang besar. Jika seseoranag mau menemukan sebuah hikmah maka dia haarus berbuat salah itulah kunci hidup.

Maka ada 4 cara Untuk Mengubah takdir  Seperti dalam hadits Nabi:

Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)

Cara Mengubah Takdir

 

Mengubah Takdir Dengan Berdo’a.

Allah yang menetapkan takdir kita, maka Allah memiliki kuasa untuk mengubahnya, artinya takdir baru bagi kita. Mengubah takdir artinya Allah menggantinya dengan takdir baru. Tetap, Allah yang menetapkan takdir.

 

Cara pertama ialah dengan berdo’a seperti yang dijelaskan pada hadits diatas.

 

Cara Kedua adalah bersedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

 

Cara Ketiga adalah bertasbih. Ada hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqosh, Rasulullah bersabda :

Maukah kalian Aku beritahu sesuatu do’a, yang jika kalian memanfa’atkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?  Para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Yaitu do’a “Dzun-Nun : “LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang dholim”). (H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim).

 

Cara keempat ialah dengan bershalawat ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu Ka’ab, bahwa ada seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala sholawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni(H.R Imam Ahmad At-Tabroni)


Jadi, jangan pernah  kita berhenti berdo’a dan berusaha. Seburuk apa pun kondisi saat ini, semuanya masih bisa berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih bisa berubah.  Selalu  Optimis  adalah kunci untuk  bisa mengubah takdir menjadi lebih baik.

Sekian semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s