Pengumpan RSS

KONSEP ATTAWAZZUN DALAM ISLAM

Dalam agama islam konsep attawazzun sangat di ketengahkan sebab konsep ini merupakan pelengkap bagi kehidupan seorang muslim, namun sebelumnya perlu kita tahu apa sih itu tawazzun..??.

Akar kata tawazun dari Al Wazn ( الوزن ) Al Waznu ditambah ta’ dan alif menjadi

توازن – يتوازن – توازنا   Tawazun, berasal dari kata tawazana : Seimbang Tawazun’ bermakna memberi sesuatu akan haknya, tanpa ada penambahan dan pengurangan. Kemampuan seorang individu untuk menyeimbangkan kehidupanya dalam berbagai dimensi, sehingga tercipta kondisi yang stabil, sehat, aman dan nyaman. Tawazun sangat urgen dalam kehidupan seorang individu sebagai manusia, sebagai muslim.

 Dengan Tawazun manusia dapat meraih kebahagian hakiki, kebahagiaan bathin/jiwa, dalam Bentuk ketenangan jiwa dan kebahagian lahir/fisik, dalam bentuk kestabilan, ketenangan dalam aktivitas hidup.

  • Tawazun adalah kunci dan tanda kesuksesan seseorang.
  • Tawazun menjaga keseimbangan dalam hidup yang akan menciptakan  keharmonisan.
  • Tawazun merupakan tanda kesyukuran
  • Menjaga seorang da’i untuk tetap istiqomah dalam dakwah.
  • Tawazun merupakan identitas Muslim yang ihsan.
  • Tawazun menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan/ ummatan wasathon

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ ( ١٤٣ )

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.(Q.S. Al-Baqarah:2:{143} )

Tawazun harus bisa ditegakkan dan dilaksanakan oleh semua orang. Bila seseorang tidak bisa menegakkan tawazun dan sikap tawazun akan melahirkan berbagai masalah. Karena tawazun merupakan “Fitrah Kauniyah” Keseimbangan rantai makanan, tata surya, hujan dan lain sebagainya,  Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan yang sangat teratur bahkan kita tak pernah menyadarinya keteraturan alam ini yang sedmikian rupa bagus nya, subhanallah sseperti firman Allah dalam : ( QS. Ar-rahman 7 )
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (٧)

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).

Tawazzun juga  berhubungan dengan “Fitrah Insaniyah” berupa tubuh, pendengaran, penglihatan dan hati dan lain sebagainya merupakan bukti yang bisa dirasakan langsung oleh manusia. Saat tidak tawazun, maka tubuh akan sakit. Alquran & Assunnah menuntut kita untuk tawazun seperti firman Allah ( QS. Az-Zumar 30 )

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ (٣٠)

30. Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).

 Kisah antara Abu Darda’ yang tidak tawazun kehidupannya ditegur oleh saudaranya Salman Al Farisi, kemudian mereka mengadu kepada Rasulullah saw. Dan bersabda:

إن لربك عليك حقا ولجسدك عليك حق ولأهلك عليك حقا، فأعط كل ذي حق حقه

 

Islam senantiasa menuntut segala aspek kehidupan kita untuk tawazun Bila sesuatu sudah keluar dari identitas tawazun, maka sudah tidak Islami lagi. Salah satu yang menjadikan Islam agama yang sempurna karena tawazunnya.

Tawazun merupakan keharusan sosial, seseorang yang tidak tawazun kehidupan individu dan kehidupan sosialnya, maka tidak akan baik kehidupan sosialnya. Bahkan interaksi sosialnya akan rusak. Tawazun  antara kehidupan dunia dan akhirat.

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

Islam menuntut semua dimensi kehidupan manusia dalam keadaan tawazun. Semua aspek kehidupan manusia ini membutuhkan perawatan dan perhatian. Jadi initinya adalah semua aspek kehidupan manusia ini membutuhkan perawatan dan perhatian. jadi sikap tawazun sangath dianjurkan isalam oleh sebab itu dengan sedikit goresan tangan ini menggugah hati pembaca blog ini sekian wassalam…..

“KETIKA AKU SAKIT”

Dikala sore menjelang seperti biasa aku duduk di depan keybord computer tiba-tiba badan terasa berat dan menggigil kedinginan tanda badan akan segera kehilangan nikmat yang diberikan tuhan. Pada saat aku sakit aku merasakan penderitaan, ternyata orang sakit itu bukan hanya mengalami pendiritaan fisik saja akan tetapi mental, kejiwaan, serta ruhani juga ikut terpengaruh.

Karena jika penyakit datang dan kita menjadi sakit maka keadaan diri kita sedang berada dalam musibah atau penderitaan yang tidak menyenangkan. Bermacam-macam rencana atau pekerjaan terbengkalai. Banyak tugas dan kewajiban kita yang tidak dapat kita penuhi, dan bermacam-macam kegembiraan lenyap berganti dengan perasaan sakit dan keluhan. Inilah yang harus kita jaga,supaya jiwa dan ruhani kita yang lemah akan lebih memburuk dari pada keadaan fisik. Buruk tidaknya ruhani kita dapat dilihat dari sikap kita ketika kita sakit.

Menurut Drs. Ahmad Mizan, Mag ada tiga kemungkinan yang akan terjadi setelah kita berusaha berobat ke rumah sakit dan lain sebagainya yaitu: 1. Kita akan sembuh seperti sedia kala 2. Kita  akan sembuh dari sakit tetapi kita akan cacat 3. Kita akan meninggalkan dunia ini  dan kembali menghadap kepadanya.

Kedatangan kita kerumah sakit adalah sarana ikhtiar kita untuk mendapatkan pengobatan dari dokter, begitu juga dokter berikhtiar untuk mengobati kita sedangkan yang memberikan kesembuhan hanya Allah SWT.

Allah maha kuasa menyembuhkan yang sedang sakit, bagaimanapun keadaannya Firman Allah (Q.S. 26:{80} )

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (٨٠)

80.  Dan apabila Aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku,

Jika kita di beri kesembuhan setelah ber ikhtiar dan masih di beri kesempatan sembuh oleh Allah maka kita harus banyak-banyak bersyukur. Sebab allah telah mengembalikan rahmatnya kepada hambanya. Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah saja akan tetapi seperti kata Muhammad Abduh amakna bersyukur adalah menempatkan sesuatu sesuia dengan fungsinya, sesuai dengan kehendak zat yang menciptakan-Nya.

Dengan demikian bersyukur berarti menunutut kita untuk bersikap bagaimana caranya agar kita dapat memanfaatkan nikmat kesehatan yang telah dikembalikan untuk menghamba dengan sebenar-benarnya. Rasulullah SAW Bersabda:

اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك ، وصحتك قبل سقمك ، وغناءك قبل فقرك ، وفراغك قبل شغلك ، وحياتك قبل موتك

“Rebutlah lima peluang sebelum datangnya lima perkara: Manfaatkanh waktu mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkanlah masa sehatmu sebelum masa sakitmu, manfaatkanlah masa senggangmu sebelum masa sempitmu, manfaatkanlah masa kayamu sebelum masa miskinmu, manfaatkanlah masa hidupmu sebelum datang ajalmu.”

( HR. Al-Hakim,Baihaqi, Ibnu abiddunya, dan Ibnul Mubarrak )

Semakain banyak rahmat Allah yang diberikan kepada kita maka   semakin besar pula hak Allah yang harus kita syukuri. Maka dari itu kita harus banyak bermuhasabah pada diri kita sendiri, karena hakikatnya penyakit adalahcobaan dari Allah yang merupakan peringatan kepada kita terhadap kesalahan-kesalahan yang kita lakukan pada massa lalu.

Oleh karena itu mari kita mencoba menengok kebelakang membaca kisah-kisah nabi seperti nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas karunia Allah yang di berikan kepadanya dan kisah tersebut di abadikan dalam firman Allah  ( Q.S. 27 {19} )

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ (١٩)

19. Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.( Q.S. 27 {19} )

Nabi sulaiman adalah sebagian contoh  teladan bagi  kita agar kita termotifasi untuk selalu mensyukuri segala nikmat Allah, yang di berikan kepada kita berupa nikmat sehat jasmani dan rohani,  yang kebanyakan manusia lupa untuk selalu mensyukuri karena tertipu dan terkesima dengan gemerlapnya dunia.

Terkadang sakit itu sembuh seperti sediakala namun ada juga yang sakit akan tetapi tidak sembuh seperti semula atau bisasa disebut cacat, artinya Allah telah sedikit mengurngi nikmat yang diberikan pada kita. Walau demikian yang terjadi akan tetapi yang terjadi merupakan takdir Allah SWT. Kita tidak pernah tahu rahasia yang tersembunyi dibalik semua cobaan Allah yang di berikan kepada kita Allah SWT Memberikan penjelasan Lewat hadis Qudsi :

عجب لامرالمؤمنين إن أمره كله خير وليس ذالك لاحد الاالمؤمنين إن أصا بته سرء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

“Menakjubkan sekali kehidupan seorang mukmin itu, segala keadaannya menjadi kebajikan baginya tidak ada seperti itu kecuali hanyalah oarang mukmin. Yaitu apabila memperoleh kesenangan ia bersyukur maka dalam hal itu baik baginya. Dan bila ia ditimpa musibah, ia sabar bertahan maka hal itu baik pula baginya. ( HR. Muslim, Baihaqi, dan Ahmad dari Shuhaib Bin Sinan )”

إذابتليت عبدي يحيبيه فصبر عو ضته منهما الجنة

Jika Aku Menguji hambaku dengan misalnya hilanganya penglihatan keduanya mata yang amat dicintainya,kemudian ia bersabar, maka aku akan mengagantinya dengan surga. ( HR. bukhari Muslim dan Ahmad dari Anas Bin Malik )

janganlah kita berfikir akan kesempatan yang telah hilang tetapi fikirkanlah kita bagaiman kita menggunakan kesempatan yang masih ada semaksimal mungkin.sesungguhnya masa depan kita terletak bagaimana cara pandang kita terhadap diri kita sekarang.

seorang muslim harus yakin bahwa kejadian apapun yang menimpa dirinya adalah pasti mengandung unsur kebaikan, sehingga ia tidak terjatuh pada keluh kesah yang tak berujung, Dengan tersenyum ia akan mengatakan kepada dirinya, bahwa Allah tentu mempumyai rencana yang lain yang baik di balik semua ini. Manusia mempunyai rencana dan Allah juga mempunyai rencana dan Allah Maha sebaik-baiknya rencana. Maka dari itu jika kita di berikan ujian berupa sakit hendaknya kita tawakkal dan selalu bersabar memohon ampunan kepada Allah karena hakikatnya orang sakit adalah di hilangkan Dosanya Oleh Allah lewat sakit jika Ia bersabar dan Bertawakkal sekian semoga bermanfaat.

AGAMAKU ADALAH JURNALISTIK

AGAMAKU ADALAH JURNALISTIK

Gambar

   Agama islam adalah agama yang turun dari langit melalui di wahyukannya alqur’an kepada nabi melalui perantara malaikat jibril yang berupa al-quran. Namun esensi dari pada wahyu adalah sebuah berita dan penyampaian wahyu kepada nabi muhammad SAW itu lewat perantara malaikat jibril bisa dikatakan “ Agama Islam Diberitakan dari allah kepada nabi muhammad melalui malaikat jibril” dan para sahabat mengumpulakan wahyu al-quran dalam bentuk tulisan, agar dapat terus berkembang dan tidak hilang dari masa ke-masa.

Firman Allah dalam surah al-anfal ayat 12:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (١٢)

 

12. (ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Jadi hakikatnya agam islam yang selama ini kita buat pedoman adalah berawal dari sebuah jurnalistik. Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pen­dapat:

  1.   Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah de­ngan lafalnya yang khusus.
  2.   Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfuz.
  3.   Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad s.a.w.

Pendapat pertama itulah yang benar; dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, serta diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam’an yakni:

“Hadis dari Nawas bin Sam’an r.a. yang mengatakan: Rasulullah s.a.w. berkata: Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu, maka langit pun tergetarlah dengan getaran atau dia mengatakan dengan goncangan yang dahsyat karena takut kepada Allah ‘azza wa Jalla. Apabila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka di antara mereka itu adalah Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang dikehendakiNya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu: Apakah yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang hak dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah azza wa jalla.” (HR. Thabrani).

Dari hadis di atas dapat kita fahami bahwa memang agama islam dapat di terima oleh semua kalangan di karenakan setiap penyebaranya salah satunya menggunakan berita. Dan ada sebuah pepatah mengatakan sesuatu yang penting yang terdapat dalam sebuah berita adalah esensinya yaitu “Dengan berita seseorang dapat merubah dunia hanya dengan kata-kata” jurnalis bukan sebatas ‘alat’ pekerja untuk mencapai tujuan perusahaan, memberikan informasi kepada publik atau memperoleh profit, melainkan sebagai ‘nyawa’ dari keberlangsungan hidup tentang visi dan misi yang dijunjung suatu news media. Diantara keduanya terdapat harmoni dimana kerja-kerja mencerdaskan publik nantinya akan menghasilkan masyarakat haus informasi dan ‘aware’ terhadap fenomena disekitar mereka.

Kalimat sering di ucapkan jurnalis nasional, Andreas Harsono dalam bukunya yang berjudul “AGAMAKU ADALAH JURNALISME”

“Senjataku tidak menembakan peluru ke targetnya, tidak juga mencecerkan darah ketika melukai targetnya.Aku tidak melakukan pengisian-ulang amunisi selama ‘keyakinan’ dan independensiku tak tergoyahkan. Aku adalah Jurnalis yang akan merubah dunia.”

Pada dasarnya seorang jurnalis dapat mengombang ambingkan setiap orang dan dapat mengelabuhi setiap penerimanya. Jika dalam suatu wilayah ada dua orang yang bertikai maka seorang jurnalis mampu mendamaikannya, bahkan bisa juga dia membuat mereka saling bunuh membunuh.

Bagi jurnalis, media tidak sebatas ‘alat’ kendaraan profesi, melainkan ruang ‘sensitif’ dalam menyalurkan informasi, inspirasi serta keyakinan diri, sementara bagi media, Untuk mendapatkan informasi atau berita, maka ini adalah tugas seorang wartawan (jurnalis). Kegiatan jurnalistik, telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Surat ajakan masuk Islam kepada Kaisar Persia, merupakan suatu kegiatan jurnalistik, lebih dari itu pembukuan al-Quran yang kita kenal dengan mushaf dalam perspektif jurnalistik, al-Quran adalah karya jurnalistik juga, yakni diformat dalam buku yang isinya firman-firman Allah SWT. Demikian pula, termasuk karya jurnalistik adalah kitab-kitab kumpulan hadis seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dan sebagainya. Semua kegiatan ini adalah profesi seorang wartawan (jurnalis).

Profesi sebagai wartawan (jurnalis) dalam masyarakat sangatlah penting, sama pentingnya dengan peran yang dimainkan oleh para ilmuwan, cendikiawan dan para ulama. Seorang wartawan harus memberikan informasi yang akurat, lengkap, jelas, jujur serta aktual, dan juga dapat memberikan prediksi serta petunjuk ke arah perubahan dan transformasi. Selain itu wartawan pula harus mempertanggungjawabkan berita yang didapatkannya. Meskipun pekerja jurnalistik memiliki kebebasan, namun tidak dapat terlepas dari tanggungjawab.

.Seorang wartawan yang melebih-lebihkan sebuah berita dengan maksud untuk membuat berita itu lebih heboh dan sensasional merupakan pelanggaran etis. Wartawan yang dengan mudah tergoda untuk memperuncing fakta-fakta dengan menghilangkan sebahagian berita, menfokuskan suatu detail yang kecil tetapi menyentil, atau dengan memancing kutipan-kutipan yang provokatif, yang tujuannya bukanlah untuk mengatakan suatu kebenaran melainkan untuk menarik perhatian. Wartawan seperti inilah yang melanggar etika dalam jurnalistik.

Oleh karena itu yang dibutuhkan seorang wartawan adalah kejujuran. Kejujuran dalam mengumpulkan data, mengola dan menyajikan berita, sehingga wartawan harus memahami tentang etika dalam jurnalistik. Maka di buatlah sebuah kode etik jurnalistik untuk mengatur jalannya pemberitaan di media masa.

Kode etik jurnalistik merupakan seperangkat aturan atau norma-norma yang di berlakukan bagi seorang jurnalistik. Allah Berfirman dalam surah an-nahl ayat 116:

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ (١١٦)

 

116. dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung.

Jadi kode etik jurnalistik itu termasuk kejujuran, dan dalam agama islam kejujuran adalah pangkal dari segala amal. Maka seyogyanya seorang jurnalis tidak boleh memberitakan suatu yang benar dan tidak menambah atau mengurangi suatu berita.

Amanah dalam menyampaikan sebuah berita tidak berpihak pada satu sisi atau berat sebelah dalam menyampaikan berita ada sebuah ungkapan dari para ulama’ “MAN ADZUBA LISANUHU KATSURO IKHWANUHU” Barang siapa yang perkataanya baik maka banyak kawannya (temananya). Nah agama kita saja mengajarkan yang demikian hebatnya caramenjadi seorang jurnalis yang hebat, jadi kesimpulannya adalah ketika kita melihat segala fenomena awal turunnya agama islam adalah juga lewat berita dan jurnal terindah sepanjang zaman adalah kitabullah ya’ni Al-Quranul kariim yang memberikan kita petunjuk jalan menuju keridhaan Allah SWT.

 

 

 

 

 

 

 

PERBEDAAN ITU RAHMAT BUKAN LAKNAT

Indonesia adalah sebagian negara yang besar, dan di dalamnya banyak terdapat macam-macam perbedaaan dari mulai perbedaan suku, ras, agama dan lain sebagainya, sebagian mereka menganut faham ajaran mereka yang mereka yakini seperti orang kristen, hindu, budha, konghucu dan islam.
Mereka selalu berkata bahwa agama masing-masing adalah mutlak sebuah kebenaran, namun sejauh mana mereka dapat menganggap bahwa agama mereka adalah yang paling benar.
Berbicara mengenai sebuah perbedaan banyak sekali dikalangan kita atau dilingkungan kita orang yang masih saja mengangap bahwa perbedaaan merupakan sebuah bom waktu yang sewaktu waktu bisa meledak dan menghancurkan semuanya, mengenai pandangan yang demikian tidaklah relefan bila kita gunakan di zaman globalisasi ini sebab sesorang pasti membutuhkan perubahan.
Perubahan di era globalisasi sangatlah pesat dan perputaran energi yang sangat tinggi membuat perubahan terus terjadi disegala bidang. Dan tentu saja perbedaan juga terjadi tanpa bisa di pungkiri, Sedemikian pula dengan banyaknya kasus-kasus yang terjadi di negara ini membentuk sebuah perbedaan yang sangat kental terjadi. Dari deretan kasus yang terjadi kekerasan yang meng-atas namakan agama yang banyak menjadi sorotan media masa, kenapa demikian bukankah agama mengajarkan seseorang untuk berbuat kebaikan saling menghargai dan tolong menolongantar sesama. Jawabanya hanya satu mereka belum siapa untuk menerima perbedaaan.
Sebagian contoh kecil kasus-kasus kekerasan yang terjadi seperti peristiwa konflik agama yang terus berlarut dan tidak pernah terseselesaikan adalah Ahmadiyah. Bentrokan antara warga muslim dan Ahmadiyah tidak pernah selesai. Terkesan ada pembiaran yang berlarut-larut dari pemerintah. Sekedar informasi gesekan dan kekerasan terus terjadi, seperti peistiwa penyerangan warga         Ahmadiyah di Kuningan, bentrokan di Kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor. Diluar Jawa bentrokan juga terjadi di Makassar, dan Nusa Tenggara Barat.
Terakhir, bentrokan di Kecamatan Cikeusik yang menewaskan 4 warga Ahmadiyah, Minggu (6/2). Pemerintah mengakui kesulitan mengatasi masalah Ahmadiyah. Menkopolhukan kepada wartawan menyatakan, masalah Ahmadiyah tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat, karena masalah kepercayaan yang tidak mudah untuk mengubahnya. Djoko Suyanto menegaskan prioritas pemerintah adalah mencegah terjadinya kerusuhan, bentrokan antara warga muslim dan Ahmadiyah.
Meski ini tidak menyelesaikan masalah, namun sebagian masyarakat menganggap pemerintah dan negara tidak mampu mencegah terjadinya kekerasan, bahkan ada terkesan membiarkan terjadi kekerasan terhadap Ahmadiyah. Meski sudah dikeluarkan surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri dan menetapkan Ahmadiyah sebagai ajaran terlarang, namun pengawasan dan pembinaan yang diamanatkan oleh keputusan tersebut urung dilaksanakan. Ahmadiyah tetap menjadi sasaran kemarahan yang memicu bentrokan dengan sebagian warga muslim.
Belum selesai masalah Ahmadiyah, Selang dua hari usai peristiwa Cikeusik, masyarakat dikejutkan lagi dengan terjadinya kerusuhan yang melanda Kota Temanggung, Selasa (8/2). Vonis 5 tahun dari hakim terhadap terdakwa kasus penistaan agama Antonius Richmon Bawengan membuat massa marah, karena menilai tuntutan lima tahun terdakwa penistaan agama terlalu ringan. Mereka yang menginginkan Antonius dituntut mati itu emosi, lalu merusak Gereja Bethel Indonesia, Gereja Pantekosta, dan Gereja Katolik Santo Petrus Paulus. Selain itu, beberapa mobil dan dua truk dalmas Polri juga dirusak. Antonius (58), warga Duren Sawit, Jakarta Timur tertangkap tangan menyebarkan selebaran yang berisi penistaan agama di Jalan Kyai Kemal, Kranggan, Temanggung, 23 Oktober 2010.
Perbedaan bukanlah laknat semua orang menganggap dirinyalah yang paling benar pdahal kebenaran manusia tidak bersifat absolut, kebenaran yang bersifat absolut hanya kebenaran menurut Allah SWT.
Firman Allah dalam surah Al-Baqarah:147
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (١٤٧)

147. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu.
Yang lebih parah kenapa justru agama islam yang mengalami seperti ini bukankah agama islam adalah agama yang rahmatan lil alamin yang berlandaskan sunnah dan al-Quran.
Allah berfirman dalam surah al-Baqarah: 256
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦)

256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [162] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.
Allah snediri berfirman tidak ada paksaan dalam ber-agama islam. Nah kenapa orang memaksa beragama sesuai kefahman mereka padahal hakikatnya sesorang beragama mereka itu ibarat mencari jalan yang bermuara pada shiratal mustaqim yakni jalan yang diridhai oleh Allah.
Ngomong-ngomong soal agama saya jadi teringat akan pernyataan KH.Mustofa Bisri yang akrab dengan panggilan Gus Mus ketika wawancara dalam acara Kick Andy beliau ditanya Gus Bagaimana pendapat anda mengenai kekerasan atas nama agama gus…??
Beliau menjawab sembari bertanya agama itu apasih…??? Orang bicara agama jangan-jangan mereka gak faham dengan apa itu agama,dikira agama itu pukul orang, berantem, tawuran, jangan-jangan pemahaman mereka tidak sama dengan pemahaman saya.
Kata Gus Mus Orang beragama itu bertingkat-tingkat berkelas-kelas ada yang masih PAUD ada yang TK ada yang SMP ada yang SMA ada yang MAHASISWA S1, S2, S3. Jadi pemahaman mereka mengenai agama itu berbeda-beda pula kalau orang beragama masih PAUD suka marah-marah agama dikiranya suka mukul orang, yang masih di TK marah marah sama yang PAUD, agama itu seperti ini agama kuk seperti itu, ini kan hal yang sangat lucu sekali.
Seharusnya yang tingkatan lebih tinggi itu marahin pada yang masih TK, biyar tau apa sih agama itu sebenarnya. Pada maqam yang tertinggi ini dia akan mengerti bagaimanasih agama itu sebenarnya agama itu. OOOh ternyata agama itu mengajak damai saling mengerti tolong menolong dan lain sebagainya. Kick Andy betanya lagi bagaimana Gus pandangan anda tentang ahmadiyah katanya aliran ini sesat…???
Gus Mus menjawab sebenarnya ahmadiyah ini tidak sessat beliau bertanya orang Islam itu berpegang hukum pada apa sih..?? pada Al-Quran dan Hadits mereka ahmadiyah berpegang pada alquran dan hadits juga kan. Nah kalau mereka berpegang pada al-Quran dan hadits tentunya banyak kesamaan dan bisa di jelaskan mengapa berbeda kan seperti itu, dan dalam islam sendiri ada etikanya untuk tahapan-tahapan untuk berdakwah.
Seperti Firman Allah dalam surah an-Nahl 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥)
125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
Dan Gus Mus menjawab kalau dengan Orang yang punya Al-Quran dan Hadits Saja kita tidak bisa berdialaog terus bagaimana dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. Inilah penyakit bangsa kita kata Gus Mus, kita belum mampu menerima pebedaa. Kita belum siap untuk berbeda. Padahal perbedaan itu fitrah sekali.
Rasulullah SAW bersabda :
اخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ
“Peredaan umatku adalah rahmat.”

Lalu kick andy bertnya lagi pada Gus Mus faktor apa yang menyebabkan bangsa kita belum siap menerima perbedaan…??.

Gus Mus Menjawab kita ini seperti burung yang berada di dalam sangkar emas, nah pada saat burung itu di lepaskan burung tersebut mengeleppar bingung mau kemana, seperti itulah kita dan bangsa ini.  yang jadi persoalan entah sampai kapan burung tersebut mengeleppar dan kebingungan. Berbeda itu bukan sikap yang mesti dihindari. Sebab kita tak mungkin bisa menghindarkan diri dari perbedaan. Perbedaan adalah suatu kondisi yang tak harus diseragamkan. Perbedaan tercipta karena hidup adalah harmoni.

Tuhan menciptakan alam raya dengan segala keunikan perbedaan. Ia bahkan menciptakan keanekaragaman dalam satu jenis penciptaan. Banyak spesies katak. Banyak spesies burung, tanaman, bahkan ras manusia. Dia menciptakan perbedaan agar ciptaan dapat saling mengenal dan membentuk harmoni.

Perbedaan akan menjadi kearifan jika tak disikapi dengan  pertentangan dan cercaan. Sebab sikap bertentangan dan cercaan dapat memancing pertikaian. keseragaman bukanlah hasil akhir dari sebuah perbedaan. Suatu harmoni tidak mesti seragam. Coba kita saksikan sebuah pertunjukan musik orchestra. Harmoni yang mereka ciptakan, bukanlah hasil keseragaman, tapi hasil dari perbedaan. Perbedaan alat musik, perbedaan suara, perbedaan peran, perbedaan aksi, perbedaan bunyi. Mereka sanggup meng-arrange segala perbedaan menjadi harmonisasi yang indah bagi kehidupan.

Negara kita adalah negara yang begitu banyak terdapat bermacam-ragam perbedaan. Justru itulah kekayaan dan kekuatan kita dalam kesatuan Negara ini. Sungguh saya bersyukur, dalam pembelajaran dan pendewasaan bangsa ini, acara-acara debat banyak digelar. Baik di tivi, radio maupun on-air. Dan orang melihat, ketika acara selesai dua pihak seperti layaknya dua teman, saling sapa, saling tersenyum, makan bersama, saling menanyakan perihal keluarga mereka. Bersyukurlah bahwa kita manusia diciptakan berbeda, sehingga punya kesempatan untuk belajar menjadi dewasa dan mensyukuri perbedaan ini. Seharusnya kita sadar akan hal ini karena perbedaan adalah sebuah rahmat bukan laknat, Demikian tulisan ini semoga bermanfaat.

Kebebasan Adalah Aturan

The Freedom is Regulation

 (Kebebasan adalah sebuah peraturan)


Sebagian dari kita masih saja menganggap bahwa demokrasi adalah kebebasan individu yang sebebas-bebasnya. Negara demokrasi akhirnya dimaknai sebagai Negara yang menganut faham kebebasan sebebas-bebasnya, tanpa ada aturan. Padahal menurut saya bukan demikian. Kebebasan individu” mempunyai pengertian dan kesimpulan yang berbeda. Kebebasan tidak mudah untuk diartikan namun juga tidak mudah untuk diwujudkan, karena sebenarnya kebebasan itu sendiri adalah aturan yang dibuat secara tidak sadar (naluriyah) atau biasa disebut insting. Bicara mengenai kebebasan tidak terlepas dari adanya beberapa pandangan para tokoh, baik tokoh agama dan politik. Istilah kebebasan dan kemerdekaan umumnya dipahami sebagai persamaan kata “freedom” dan

”liberty”, artinya keadaan dimana seseorang bebas dari dan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Yang disebut pertama adalah kebebasan negatif, dimana segala bentuk pengaturan dan pembatasan berupa suruhan, larangan ataupun ajaran, dianggap berlawanan dengan kebebasan; manakala yang kedua (bebas untuk) dinamakan kebebasan positif, dimana seseorang boleh menentukan sendiri apa yang ia kerjakan.

Bagi seorang Muslim, kebebasan mengandung tiga makna sekaligus. Pertama, kebebasan identik dengan fitrah’  yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah, dicemari, dan dirusak oleh sistem kehidupan di sekelilingnya. Seperti kata Nabi SAW: ‘kullu mawludin yuladu ‘ala l-fitrah’. Setiap orang terlahir sebagai mahluk dan hamba Allah yang suci bersih dari noda kufur, syirik dan sebagainya. Namun orang-orang di sekelilingnya kemudian mengubah statusnya tersebut menjadi ingkar dan angkuh kepada Allah.

Maka orang yang bebas ialah orang yang hidup selaras dengan fitrahnya, karena pada dasarnya ruh setiap manusia telah bersaksi bahwa Allah itu Tuhannya. Sebaliknya, orang yang menyalahi fitrah dirinya sebagai abdi Allah sesungguhnya tidak bebas, karena ia hidup dalam penjara nafsu dan belenggu syaitan.

Ahli tafsir abad keempat Hijriah, ar-Raghib al-Ishfahani, dalam kitabnya menerangkan dua arti bebas (hurr): pertama, bebas dari ikatan hukum; kedua, bebas dari sifat-sifat buruk seperti rakus harta sehingga diperbudak olehnya. Pengertian kedua inilah yang  disebutkan Nabi saw dalam sebuah hadis sahih: Celakalah si hamba uang (ta‘isa ‘abdu d-dinar’).

Makna kedua dari kebebasan adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak (masyi’ah) atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-masing. Apakah jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim) ataukah jalan yang lekuk. Apakah jalan yang terjal mendaki ataukah jalan yang mulus menurun. Apakah jalan para nabi dan orang-orang sholeh, ataukah jalan syaitan dan orang-orang sesat. ‘Siapa yang mau beriman, dipersilakan. Siapa yang mau ingkar, pun dipersilakan’ (fa-man sya’a fal-yu’min, wa man sya’a fal-yakfur), firman Allah dalam al-Qur’an (18:29).

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (٢٩)

29. dan Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Kebebasan di sini melambangkan kehendak, kemauan dan keinginan diri sendiri. Bebasnya manusia berarti terpulang kepadanya mau senang di dunia ataukah di akhirat. Firman Allah: ”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS al Isra’:18-19)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (١٨)

18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.

وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (١٩)

19. dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS asy Syura:20).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (٢٠)

20. barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Terserah padanya apakah mau tunduk atau durhaka kepada Allah. Apakah mau menghamba kepada sang Khaliq atau mengabdi kepada makhluk. Sudah tentu, kebebasan itu bukan tanpa konsekuensi dan pertanggungjawaban.

Dan benarlah firman Allah bahwa tidak ada paksaan dalam agama  ‘la ikraha fi d-din’ (2:256).

Setiap manusia dijamin kebebasannya untuk menyerah ataupun membangkang kepada Allah, ber-Islam ataupun kafir. Mereka yang ber-Islam dengan sukarela (thaw‘an) lebih unggul dari mereka yang ber-Islam karena terpaksa (karhan), apalagi dibandingkan dengan mereka yang kafir dengan sukarela.

Ketiga, kebebasan dalam Islam berarti  memilih yang baik’ (ikhtiyar).sesuai dengan akar katanya, ikhtiar menghendaki pilihan yang tepat dan baik, yang mengakibatkan baik ataupun buruk.

Oleh karena itu, orang yang memilih keburukan, kejahatan, dan kekafiran itu sesungguhnya telah menyalahgunakan kebebasannya. Sebab, pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr). Di sini kita dapat mengerti mengapa dalam dunia manusia tidak dibiarkan bebas untuk membunuh manusia lain.

Jadi, dalam tataran tertentu, kebebasan sejati mencerminkan ilmu dan adab, manakala kebebasan palsu mencerminkan kebodohan dan keterbelakangan. Kebebasan seharusnya dipandu ilmu dan adab supaya tidak merusak tatanan kehidupan. Agar membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam bentuk inilah seorang Muslim memahami firman Allah: ”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (QS. Fushshilat:46).

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ (٤٦)

46. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya.

Maka janganlah kebebasan itu menyebabkan kebablasan, sebab kebebasan sendiri memiliki batas seperti halnya sebuah aturan yang memiliki batas ukuran untuk menentukan aturan yang menjadi sebuah pedoman.

Logikanya kebebasan merupakan bentuk sebuah lingkaran atau sebuah kubus yang di dalamnya terdapat garis pembatas, jika garis tersebut diumpamakan aturan atau sebuah hukum maka apabila seseorang keluar dari sebuah kubus ataupun lingkaran, dia akan menjumpai lingkaran lagi yang lebih besar atau sebuah kubus lagi yang lebih besar, begituah sunnatullah yang berlaku di alam semesta ini.

Kebebasan manusia yang sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para ahli fikir bahkan ahli dzikir. Para agamawan mulai mempertanyakan kembali hakekat kebebasan pada diri manusia, bahwa sejauh mana sebenarnya manusia memiliki kebebasan/kemerdekaan?
Apa makna kebebasan/kemerdekaan itu sesungguhnya?

Kebebasan merupakan sebuah tindakan atau perbuatan  yang bermula dari kehendak untuk melakukan. Sementara menurut Prof. Dr Driyarkara, seorang filsuf Indonesia kontemporer, menulis dalam bukunya
bahwa kemerdekaaan atau kebebasan merupakan kekuasaan untuk menentukan diri
sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat.

Kebebasan merupakan hak individu untuk
menggunakannya atau tidak ada seorang pun yang mampu untuk memaksa
seseorang terkait kebebasan yang dimilikinya. Manusia memiliki sebuah kemauan
serta dorongan untuk melakukan, sehingga kebebasan muncul dari kedua hal itu.
Sebagai contoh riil, ketika seorang yang bertambuh gemuk memiliki kemauan
untuk kurus, maka akan tercipta dorongan untuk mengurangi jatah makannya setiap hari. Di sanalah muncul kebebasan bagi dia untuk melakukan hal itu.

Bisa kita tarik sebuah kesimpulan setiap kebebasan hakikatnya adalah aturan yang menjadi pilihan. Demikian tulisan ini saya sampaikan, semoga bermanfaat……

UBAHLAH APA YANG BISA DI UBAH & SYUKURI APA YANG TIDAK BISA DI UBAH

UBAHLAH APA YANG BISA DI UBAH

&

SYUKURI APA YANG TIDAK BISA DI UBAH

Dalam sebuah Buku Yang berjudul Menyingkap takdir ilahi karangan Dr.M.Chusnul hakim MA. Beliau Memberikan Gambaran Bahwa sebuah takdir dapat di ubah, dan pernyataan ini senada dengan perkataan wakil rektor INSTITUT PTIQ JAKARTA, Dr.Ali Nurudin MA. Mengatakan bahwasanya Takdir merupakan ketentuan Allah sejak zaman azali. seperti yang kita tahu takdir di bagi menjadi dua bagian yang pertama takdir mubram dan takdir muallaq.
Takdir mubram merupakan ketentuan Allah yangtak dapat di ubah seperti: Kelahiran & Kematian, Kita semua tidak bisa memilih mau dilahirkan dari Rahim siapa..? mau mati kapan dan di mana..? kita semua tak bisa memilihnya apalagi mengusahakannya.
Akan tetapi berbeda dengan takdir muallaq, takdir muallaq yaitu merupakan takdir yang manusia dapat mengupayakan / mengusahakannya jika dia ingin mencapainya seperti: cita-cita,jodoh,rezeqi,dsb. Orang bisa memilih tyakdirnya apakah dia mau jadi seorang Profesor, dia mau menikah dengan orang arab, dia mau jadi seorang jutawan, semua itu manusia bisa mengusahakannya, Oleh sebab itu manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan taqdirnya dan seberapa besar usaha yang dapat dilakukannya, hal ini sejalan dengan pemahaman aliran Qodariyah dan Aliran Mu’tazilah namun perlu digaris bawahi bahwa faham semacam ini terkadang perlu kita lakukan sebab jika tidak maka kita akn tertinggal dengan globalisasi yang sudah mendunia.
bukankah Allah telah berfirman: dalam surah 13 ( Ar-ra’ad ayat 11 )
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١)

(11). bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Sangat jellas bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum/golongan sebelum mereka sendiri merubahnya, ini lah yang menjadi pijakan dasar akan sebuah proses terjadinya sebuah perubahan tentang konsep takdir Allah.
Juga di jelaskan dalam surah 18 (Al-kahfi ayat 29) Allah SWT berfirman:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (٢٩)

29. dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”.
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Dalam surah alkahfi ini jelas allah memberikan sebuah kebebasan kepada manusia untuk memilih sebuah jalan yakni yang pertama manusia di beri jalan untuk sebuah kebaikan dan yang kedua jalan untuk sebuah keburukan tergantung, manakah yang akan dia pilih.
Inilah tanda kekuasaan Allah, dan hak prerogratif Allah dalam memuliakan hambanya yang bernama manusia. Tidak ada makhluk Allah yang diciptakan selain manusia yang mempunyai kehendak seperti halnya manusia, sebab manusia adalah sebak-baik penciptaan. Seperti dijelaskan firman Allah: dalam surah (As-sajadah Ayat 8)
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ (٧)

7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Jika kita lihat pengertian Takdir ini sendiri adalah sebuah ketentuan Allah yang sudah ada sejak zaman azali, namun Allah juga emberikan sebuah kebebasan terhadap hambanya untuk memilih takdirnya sendiri, Aliran mu’tzilah berpendapat Allah bukanlah pencipta segala perbuatan pada diri manusia akan tetapi manusia itu sendirilah yang mencipatakan segal perbuatanya, bukan Aliran Mu’tazilah ini tidak percaya akan konsep Biidznillah, akan tetapi aliran ini mencoba menghilangkan sifat-sfat Allah dari segala bentuk perbuatan makhluknya.
Seperti halnya faham Qodariyah yang mengatakan segala bentuk perbuatan manusia baik dan burknya tidak ada intervensi tuhan dalam segala bentuk perbuatan manusia,
Yang dimana manusia di berikan Free Will & Free Act, (Kebebasan Berkehendak dan Kebebasan berbuat)
Aliran Qodariyah dan Mu’Tazilah keduanya sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Allah.dan pandangan tentang sebuah takdir itu merupakan bentuk sunnatullah.
Maka seyogyanya kita semua berusah amewujudkan cita-cita dan harapan kita karena kita tahu bahwa kita adalah manusia yng diberikan kebebasan untk menentukan taqdir kita, seberapa besarkah usaha kita untuk mewujudkannya….??
Jangan pernah berpangku tangan dan hanya bilang semua ini terjadi memang sudah terjadi karena kehendak Allah semata.tanpa kita berusah, ini adalah sebuah kesalahan besar.
Jika takdir bisa kita ubah, mengapa tidak kita rubah, ketika kita ingin meraih sebuah keinginan maka kita harus berusaha dan bertawakkal pada Allah. Seperti ketika kita mau melangkah untuk berubah jangan ada perasaan ragu untuk merubah keadaan untuk sebuah tujuan yang baik.
Seprti sebuah “moto” untuk kehidupan kita, sebagai contoh ketika kita menginginkan menjadi anak seorang presiden atau menjadi anak banagsawan kita tidak bisa memilihnya. Inilah takdir “mubram” Allah.
Akan tetapi jika kita berusaha untuk menjadi seorang saudagar kaya dan kita berusaha sampai batas kemampuan kita namun belum juga kita dapatkan hasilnya, maka di sinilah takdir mubram Allah berperan yang patut kita syukuri dan kita yakini.
Hal ini Berbeda menurut pandangan Mu’tazilah & Qadariyah Mereka menolak takdir mubram Allah, mereka mengatakan bahwa segala sesuatu pasti ada balasannya jadi jika seseorang sudah berusaha maka Allah tidak akan menyia-nyiakan usahanya berdasarkan firman Allah:dalam surah 99 (Al-adiyat)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (٨)
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
Anda boleh sependapat dengan Mu’tazilah & Qodariyah mereka mengatakan demikian karena mereka punya dasar hukum dan alasan. Ada baiknya juga bila seseorang ingin maju,ingin berhasil maka harus mengambil keyakinan faham alira Mu’tazilah & Qodariyah.
Akan tetapi di satu sisi kita perlu melihat lagi bahwa ada faham fatalis atau jabariyah mereka menganggap semua perbuatan sudah diciptakan Allah sejak zaman azali atau bisa disebut takdir “mubram” jadi kit ahnya menjalani hidup seperti robot yang bergerak mengalir tanpa ada usaha, berjalan seperti air mengalir. Keadaan ini juga baik menerima semua takdir Allah tanpa ada rasa kecewa. Namun kita lihat hal ini justru mendorng manusia untuk tawakkal tanpa usaha pasrah dan hanya pasrah saja. Dia tidak bisa melakukan usah untuk mewujudkan sesuatu yang dia inginkan sebab terbatasi faham (semua sudah di atur), maka faham demikian tidaklah lerefan kalu kita gunakan dizaman sekarang ini.
Kita cenderung kepada faham Mu’tazilah dan Qadariyah, idealnya kita menggabungkan kedua-duanya agar kita menjadi pribadi yang bijak dan menjadi orang yang pandai bersyukur menerima semua keadaan. Mungkin faham jabariyah atau Fatalis ini kita beri porsi no xx , kita letakkan yang paling belakang.
Sebab jika kita tidak mengambil faham ini kita menjadi orang yang takabbur dan orang yang tidak bisa menerima keadaan.
Tapi demikian yang perlu kita garis bawahi dari pernyatan di atas adalah Allah memberikan takdir “muallaq” artinya takdir yang bisa kita pilih untuk melakukannya atau tidak kita pilih, tergantung takdir itu baik atau buruk yang akan kita pilih.
Kita harus bersyukur jika suatu takdir yang tidak dapat kita ubah merupakan sebuah sunnatullah yang harus kita syukuri karena di setiap kejadian dibalik sebuah peristiwa disitu terdapat hikmah yang besar. Jika seseoranag mau menemukan sebuah hikmah maka dia haarus berbuat salah itulah kunci hidup.

Maka ada 4 cara Untuk Mengubah takdir  Seperti dalam hadits Nabi:

Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)

Cara Mengubah Takdir

 

Mengubah Takdir Dengan Berdo’a.

Allah yang menetapkan takdir kita, maka Allah memiliki kuasa untuk mengubahnya, artinya takdir baru bagi kita. Mengubah takdir artinya Allah menggantinya dengan takdir baru. Tetap, Allah yang menetapkan takdir.

 

Cara pertama ialah dengan berdo’a seperti yang dijelaskan pada hadits diatas.

 

Cara Kedua adalah bersedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

 

Cara Ketiga adalah bertasbih. Ada hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqosh, Rasulullah bersabda :

Maukah kalian Aku beritahu sesuatu do’a, yang jika kalian memanfa’atkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?  Para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Yaitu do’a “Dzun-Nun : “LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang dholim”). (H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim).

 

Cara keempat ialah dengan bershalawat ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu Ka’ab, bahwa ada seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala sholawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni(H.R Imam Ahmad At-Tabroni)


Jadi, jangan pernah  kita berhenti berdo’a dan berusaha. Seburuk apa pun kondisi saat ini, semuanya masih bisa berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih bisa berubah.  Selalu  Optimis  adalah kunci untuk  bisa mengubah takdir menjadi lebih baik.

Sekian semoga bermanfaat.

“Yesterday Is History, Tomorrow Is Mystery, Today Is A Gift.”


Yesterday Is History, Tomorrow Is Mystery, Today Is A Gift.”

Mengawali sebuah judul blog ini saya ambilkan dari sebuah judul filem serial “kungfu panda”
Kelihatannya kalimat itu sederhana. Tapi kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Rasanya saya jadi punya kekuatan lebih setelah mendengar kalimat itu. Ajaib ya? Cuma kata-kata dalam film tapi bisa membuat orang menjadi lebih kuat.

Tidak banyak orang yang sanggup memanfaatkan hidup secara maksimal. Umur yang panjang kadang-kadang hanya lewat begitu saja tanpa kita berbuat hal yang berarti. Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa tahu-tahu kita sudah tua. Tapi, coba apa Anda pernah berpikir begini, ”apa saja ya yang sudah saya dapat sampai detik ini? Hal hebat apa yang sudah pernah saya raih?”

Well, well, well. Inilah saatnya kita beresolusi. Hmmm, harus ada waktu untuk kita berhenti sejenak dari segala aktivitas. Dan, kita buat sederet panjang pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri kita sendiri. Ya, buat angket untuk diri kita sendiri. Dan hanya kita yang harus menjawab semua pertanyaan yang ada. Di sini akan ketahuan, apakah kita sudah hidup sesuai kemauan kita? Sudah berhasilkah kita?

Kita harus jujur pada diri sendiri. Kalau memang kita sudah memboroskan waktu sia-sia, jangan takut untuk mengakui. Kalau memang terlalu banyak kesalahan yang kita perbuat, ya kita boleh menyesal. Tapi, menyesal saja tidak cukup. Kita masih punya waktu ke depan. Waktu yang masih menjadi misteri. Misteri itu hanya kita yang bisa memecahkan. Tinta mana saja yang akan Anda torehkan di lembar-lembar kosong kita?

Di dalam Surah Al-Ashr Allah SWT Berfirman:
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Begitu pula yang terjadi dalam bisnis. Sepanjang apa bisnis Anda sudah berjalan? Target apa yang sudah berhasil dicapai? Apa saja kesalahan yang pernah terjadi dalam bisnis Anda? Kegagalan apa yang tak pernah Anda lupakan?

Yesterday is history. Artinya, kita harus belajar dari apa yang sudah terjadi. Kalau kemarin Anda gagal menjual 100 produk, bukan berarti besok Anda akan gagal lagi. Today is a gift. So, selama Anda mampu memanfaatkan hari ini sebaik mungkin, saya percaya misteri bisnis Anda ke depan tidak akan membuat Anda khawatir.

Kalau hari ini Anda bangkrut. Hutang perusahaan membumbung tinggi. Semua harta sudah disita bank. Apa yang akan Anda lakukan? Sedih boleh, marah boleh, uring-uringan juga boleh. Tapi, asal produktif. Meluapkan perasaan, emosi itu kadang-kadang bagus juga untuk kesehatan. Asal, jangan kebablasan.
Sebab Allah SWT berfirman dalam surah al-insyirah:
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦)
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Selebihnya, lebih baik manfaatkan hadiah yang diberi Tuhan untuk Anda. Bersyukurlah hari ini Anda masih diberi waktu, masih diberi hidup. Artinya, Anda masih punya kesempatan untuk bangkit lagi. Meski tertatih-tatih, Anda tidak boleh hilang kendali. Saat-saat sulit hari ini akan berbuah manis di masa yang akan datang. Percayalah. Tuhan bukan cuma menguji kesabaran Anda, tapi juga menguji kreativitas Anda. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Belajarlah dari sana. Kalau Anda pernah berhasil, saya yakin Anda bisa lebih berhasil lagi.

Bisnis adalah sebuah seni. Menikmati seni berarti merasakan keindahan. Bukan cuma saat-saat sukses saja yang harus Anda nikmati, tapi kegagalan juga. Kalau sudah begitu, Anda akan tahu bagaimana indahnya kehidupan. Ingat, tanpa rasa sakit kita tidak akan tahu bagaimana rasanya senang. Benar begitu?

Persaingan di Era moderen ini agaknya adalah sesuatu yang sangat di cari dan diminati di setiap lembaga pendidikan, bisa kita lihat tingkat mahasiswa di setiap Universitas Di seluruh jakarta meningkat pesat dari tahun ke-tahun, Tapy coba kita tengok sejenak ke belakang bagaimana Nasip para mahasiswa kita…?? Sebagian mereka menganggur Dan hanya mengandalkan ijazah Hasil kuliyahnya saja buat mencari pekerjaan, Memang ada yang Berhasil Namun Bisa dihitung dengan Jari, Inilah Sebuah misteri kehidupan, Kalu kita mau menjadi Orang yang berhasil maka kita harus merubah cara berfikir kita bahwa perkuliyahan tidak menyediakan lapangan pekerjaaan, tapi diperkuliyahan banyak yang kita dapatkan untuk menciptakan  sebuah peluang Lapangan pekerjaan.

Dalam agama kita (islam) sudah banyak dijelaskan bahwa Orang yang berilmu Derjatnya akan Lebih tinggi itu bennar, Namun satu hal kita juga harus lihat,  islam sendiri memandang sebuah usaha yang dengan usaha ini seseorang akan mencapai hasil yang maksimal,  ada Sebuah MAQOLA:  ” Al-AJRU BIQODRITTA’AB ” (Keberhasilan Seseorang itu Di tentukan Seberapa Besar Usahanya)

Timbulah pertanyaan sudah seberapa besarkah usaha kita…? Sudah berapa %  usah yang kita lakukan..? Jika masih belum  atau Masih  50 % mari kita  tingkatkan / kita lakukan hari ini juga..! ” Sebab Esok adlah Misteri dan Kemarin Adalah Sejarah Sekarang adalah Masa Depan ( Kado Dary Tuhan ) “.

Jadi Jangan sia-siakan kesempatan di hari ini,  karena hari ini tak akan datang kembali, sebab pepatah mengatakan ” KESEMPATAN TIDAK DATANG DUA KALI “.

Akan tetap menjadi sesuatu yang menguatkan Anda,
bila Anda tidak mengijinkannya untuk melemahkan Anda.

Maka mulailah dari tempat di mana Anda berada, dan mulailah sekarang.

Anda sampai, hanya karena Anda berangkat.

Dan ingatlah, Bahwa Batas waktu itu dibuat bukan karena Anda harus selesai, tetapi karena Anda harus segera memulai.

Dan setelah pengertian ini mendapatkan tempat yang kuat di hati Anda, perjelaslah bagi diri Anda sendiri, bahwa
Keberhasilan Anda ada pada tempat yang lebih tinggi dari yang sedang Anda kerjakan sekarang.

Kemudian,
janganlah berlaku seperti orang yang mengeluhkan apa saja yang tidak terlihat di dalam sebuah gambar,

Berfokuslah pada yang telah jelas terlihat,
karena dari sana lah Anda mencapai tempat-tempat yang belum terlihat bahkan oleh imajinasi Anda.
Lalu bekerja keraslah dalam kedamaian bahwa Anda telah melakukan yang benar.

Janganlah berupaya menjelaskan mengapa Anda tidak mencapai yang belum Anda capai.
Bekerjalah untuk mencapai yang telah jelas bagi Anda.
Maka, Mulailah keberhasilan Anda dari mana pun Anda berada.

Mario Teguh menjelaskan makna sukses dan cara membangun motivasi diri.

Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.

“Imam Ibnu ‘Atha’illah”

Mengatakan, “Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna hasilnya.” Sehingga ada pertanyaan, bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?

Jadi kesimpulannya semakin anda banyak mengalami sebuah kegagalan maka anda akan merasakan betapa dekatnya sebuah keberhasilan.
Semakin banyak pengalaman semakin banyak pelajaran yang anda dapatkan & semakin banyak pelajaran yang anda dapatkan maka semakin bijak langkah anda dalam menjalani kehidupan.
Sekian salam Hormat……

Pengertian ILmu Tafsir

” Pengertian Ilmu Tafsir”

“PENGERTIAN ILMU TAFSIR & KEGUNAANNYA”

  • AL-QURAN: PUSARAN KHAZANAH KEILMUAN

Al-Qur’an adalah sekumpulan teks yang dijadikan sebagai sentral sejarah dan peradaban Islam, dan sekaligus sebagai dasar ilmu pengetahuan. Peradaban Islam pada dasarnya adalah kegiatan manusiawi yang banyak didialogkan dengan realitas, dan dari segi lain, peradaban itu didialogkan dengan teks (al-Qur’an). Karena itu, teks al-Qur’an dapat dijadikan sebagai sentral peradaban, sentral ilmu dan pegangan keagamaan. interpretasi (tafsir) adalah salah satu mekanisme kebudayaan yang penting dalam memproduksi ilmu pengetahuan.

  • Perintah Merenungkan al-Qur’an

Orang-orang yang telah kami beri al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. (QS.al-Baqarah:121) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Q.S. Muhammad:24) Nabi bersabda, “Al-Qur’an adalah hidangan Allah di bumi-Nya, maka nikmatilah hidangan itu semampunya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

  • Definisi Ilmu Tafsir

هو علم يعرف به فهم كتاب الله المنزل علي نبيه محمد (ص) وبيان معانيه وإستخراج أحكامه و حكمه . Ilmu yang dengannya diketahui: maksud kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw. Makna-makna al-Qur’an dapat dijelaskan Hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya dapat diketahui

  • Tujuan/Manfaat Ilmu

Mengetahui makna kata-kata dalam al-Qur’an Menjelaskan maksud setiap ayat Menyingkap hukum dan hikmah yang dikandung al-Qur’an Menyampaikan pembaca kepada maksud yang diinginkan oleh Syari` (pembuat syari`at), yaitu Allah SWT, agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat

  • Ilmu-Ilmu yang Dibutuhkan dalam Penafsiran al-Qur’an (Ulum al-Qur’an)

Ilmu Mawathin al-nuzul Ilmu Tawarikh Ilmu Asbab al-nuzul Ilmu Qira’at Ilmu tajwid Ilmu Gharib al-qur’an Ilmu I’rabil qur’an Ilmu Wujuh wa al-nazhair Ilmu Ma’rifat al-muhkam wa al-mutasyabih Ilmu Al-Nasikh wa al-Mansukh Ilmu Bada’I al-qur’an Ilmu I’jaz al-qur’an. Ilmu Tanasub ayat al-qur’an. Ilmu Aqsam al-qur’an. Ilmu Amtsal al-qur’an. Ilmu Jidal al-qur’an. Ilmu Adab al-tilawah al-qur’an

  • Sejarah Ilmu Tafsir

Zaman Nabi Zaman Sahabat Zaman Tabi`in Zaman Keemasan Islam Zaman Kemunduran Islam Zaman Kemajuan Islam Zaman Modern

  • SYARAT DAN ADAB PENAFSIR AL-QUR’AN

Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan al-Qur’an. Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya. Mengikuti urut-urutan dalam menafsirkan al-Qur’an seperti penafsiran dengan al-Qur’an, kemudian as-sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabi’in. Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya, karena al-Qur’an turun dengan bahasa arab. Mujahid berkata; “Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (al-Qur’an) jikalau tidak menguasai bahasa arab“. memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna atau mengistimbat suatu hukum sesuai dengan nusus syari’ah, Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an seperti ilmu nahwu (grammer), al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya), al-ma’ani, al-bayan, al-badi’, ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam al-Qur’an), aqidah shaihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukh, fiqh, hadits, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan.

  • Adab Seorang Mufassir:

Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari keridloan Allah semata. Berakhlak mulia, agar ilmunya bermanfaat dan dapat dicontoh oleh orang lain Mengamalkan ilmunya. Hati-hati dalam menukil sesuatu, tidak menulis atau berbicara kecuali setelah menelitinya terlebih dahulu kebenarannya. Berani dalam menyuarakan kebenaran dimana dan kapanpun dia berada. Tenang dan tidak tergesa-gesa terhadap sesuatu.

SEJARAH TAFSIR DAN PERKEMBANGANNYA

 

 

Secara etimologi tafsir bisa berarti: الايضاح والبيان (penjelasan), الكشف (pengungkapan) dan كشف المراد عن اللفظ المشكل (menjabarkan kata yang samar ). 1 Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya. 2

 

Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah dan berkembang hingga di zaman modern sekarang ini. Adapun perkembangan ilmu tafsir dibagi menjadi empat periode yaitu :

 

Pertama, Tafsir Pada Zaman Nabi.

 

Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab sehingga mayoritas orang Arab mengerti makna dari ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga banyak diantara mereka yang masuk Islam setelah mendengar bacaan al-Qur’an dan mengetahui kebenarannya. Akan tetapi tidak semua sahabat mengetahui makna yang terkandung dalam al-Qur’an, antara satu dengan yang lainnya sangat variatif dalam memahami isi dan kandungan al-Qur’an. Sebagai orang yang paling mengetahui makna al-Qur’an, Rasulullah selalu memberikan penjelasan kepada sahabatnya, sebagaimana firman Allah ,” keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab.Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (QS. 16:44).Contohnya hadits yang diriwayatkan Muslim dari Uqbah bin ‘Amir berkata : “Saya mendengar Rasulullah berkhutbah diatas mimbar membaca firman Allah :

 

وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة

 

kemudian Rasulullah bersabda :

 

ألا إن القوة الرمي

 

Ketahuilah bahwa kekuatan itu pada memanah”.

 

Juga hadits Anas yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim Rasulullah bersabda tentang Al-Kautsaradalah sungai yang Allah janjikan kepadaku (nanti) di surga.

 

 

 

Tafsir Pada Zaman Shohabat

 

Adapun metode sahabat dalam menafsirkan al-Qur’an adalah; Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, menafsirkan Al-Qur’an dengan sunnah Rasulullah, atau dengan kemampuan bahasa, adat apa yang mereka dengar dari Ahli kitab (Yahudi dan Nasroni) yang masuk Islam dan telah bagus keislamannya.

 

Diantara tokoh mufassir pada masa ini adalah: Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali), Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair dan Aisyah. Namun yang paling banyak menafsirkan dari mereka adalah Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas yang mendapatkan do’a dari Rasulullah.

 

Penafsiran shahabat yang didapatkan dari Rasulullah kedudukannya sama dengan hadist marfu’. 3 Atau paling kurang adalah Mauquf. 4

 

 

 

Tafsir Pada Zaman Tabi’in

 

Metode penafsiran yang digunakan pada masa ini tidak jauh berbeda dengan masa sahabat, karena para tabi’in mengambil tafsir dari mereka. Dalam periode ini muncul beberapa madrasah untuk kajian ilmu tafsir diantaranya:

 

1)- Madrasah Makkah atau Madrasah Ibnu Abbas yang melahirkan mufassir terkenal seperti Mujahid bin Jubair, Said bin Jubair, Ikrimah Maula ibnu Abbas, Towus Al-Yamany dan ‘Atho’ bin Abi Robah.

 

2)- Madrasah Madinah atau Madrasah Ubay bin Ka’ab, yang menghasilkan pakar tafsir seperti Zaid bin Aslam, Abul ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurodli. Dan 3)- Madrasah Iraq atau Madrasah Ibnu Mas’ud, diantara murid-muridnya yang terkenal adalah Al-Qomah bin Qois, Hasan Al-Basry dan Qotadah bin Di’amah As-Sadusy.

 

Tafsir yang disepakati oleh para tabiin bisa menjadi hujjah, sebaliknya bila terjadi perbedaan diantara mereka maka satu pendapat tidak bisa dijadikan dalil atas pendapat yang lainnya. 5

 

 

 

Tafsir Pada Masa Pembukuan

 

Pembukuan tafsir dilakukan dalam lima periode yaitu;

 

Periode Pertama, pada zaman Bani Muawiyyah dan permulaan zaman Abbasiyah yang masih memasukkan ke dalam sub bagian dari hadits yang telah dibukukan sebelumnya. Periode Kedua,Pemisahan tafsir dari hadits dan dibukukan secara terpisah menjadi satu buku tersendiri. Dengan meletakkan setiap penafsiran ayat dibawah ayat tersebut, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Jarir At-Thobary, Abu Bakar An-Naisabury, Ibnu Abi Hatim dan Hakim dalam tafsirannya, dengan mencantumkan sanad masing-masing penafsiran sampai ke Rasulullah, sahabat dan para tabi’in.Periode Ketiga, Membukukan tafsir dengan meringkas sanadnya dan menukil pendapat para ulama’ tanpa menyebutkan orangnya. Hal ini menyulitkan dalam membedakan antara sanad yang shahih dan yang dhaif yang menyebabkan para mufassir berikutnya mengambil tafsir ini tanpa melihat kebenaran atau kesalahan dari tafsir tersebut. Sampai terjadi ketika mentafsirkan ayat

 

غير المغضوب عليهم ولاالضالين

 

ada sepuluh pendapat, padahal para ulama’ tafsir sepakat bahwa maksud dari ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi dan Nasroni. Periode Keempat, pembukuan tafsir banyak diwarnai dengan buku – buku tarjamahan dari luar Islam. Sehingga metode penafsiran bil aqly (dengan akal) lebih dominan dibandingkan dengan metode bin naqly ( dengan periwayatan). Pada periode ini juga terjadi spesialisasi tafsir menurut bidang keilmuan para mufassir. Pakar fiqih menafsirkan ayat Al-Qur’an dari segi hukum seperti Alqurtuby. Pakar sejarah melihatnya dari sudut sejarah seperti ats-Tsa’laby dan Al-Khozin dan seterusnya. Periode Kelima, tafsir maudhu’i yaitu membukukan tafsir menurut suatu pembahasan tertentu sesuai disiplin bidang keilmuan seperti yang ditulis oleh Ibnu Qoyyim dalam bukunya At-Tibyan fi Aqsamil Al-Qur’an, Abu Ja’far An-Nukhas dengan Nasih wal Mansukh, Al-Wahidi Dengan Asbabun Nuzul dan Al-Jassos dengan Ahkamul Qur’annya.

 

Metode Penafsiran

Metode Penafsiran

 

Metode penafsiran yang banyak dilakukan oleh para mufassir adalah:

 

 

 

Pertama, Tafsir Bil Ma’tsur atau Bir-Riwayah

 

Metode penafsirannya terfokus pada shohihul manqul (riwayat yang shohih) dengan menggunakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, penafsiran al-Qur’an dengan sunnah, penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para sahabat dan penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in. Yang mana sangat teliti dalam menafsirkan ayat sesuai dengan riwayat yang ada. Dan penafsiran seperi inilah yang sangat ideal yang patut dikembangkan. Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah :

 

  1. Tafsir At-Tobary ((جامع البيان في تأويل أى القران terbit 12 jilid
  2. Tafsir Ibnu Katsir (تفسير القران العظيم ) dengan 4 jilid
  3. Tafsir Al-Baghowy (معالم التنزيل )
  4. Tafsir Imam As-Suyuty (الدر المنثور في التفسير بالمأثور ) terbit 6 jilid.

 

 

 

Kedua, Tafsir Bir-Ra’yi (Diroyah).

 

Metode ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

 

Ar-Ro’yu al Mahmudah (penafsiran dengan akal yang diperbolehkan) dengan beberapa syarat diantaranya:

 

1)- Ijtihad yang dilakukan tidak keluar dari nilai-nilai al-Qur’an dan as-sunnah

 

2)- Tidak berseberangan penafsirannya dengan penafsiran bil ma’tsur, Seorang mufassir harus menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir beserta perangkat-perangkatnya.

 

Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metodologi ini diantaranya :

 

  1. Tafsir Al-Qurtuby (الجامع لأحكام القران )
  2. Tafsir Al-Jalalain (تفسير الجلالين)
  3. Tafsir Al-Baidhowy (أنوارالتنزيل و أسرار التأويل).

 

Ar-Ro’yu Al- mazmumah (penafsiran dengan akal yang dicela / dilarang), karena bertumpu pada penafsiran makna dengan pemahamannya sendiri. Dan istinbath (pegambilan hukum) hanya menggunakan akal/logika semata yang tidak sesuai dengan nilai-nilali syariat Islam. Kebanyakan metode ini digunakan oleh para ahli bid’ah yang sengaja menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan keyakinannya untuk mengajak orang lain mengikuti langkahnya. Juga banyak dilakukan oleh ahli tafsir priode sekarang ini. Diantara contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah:

 

  1. Tafsir Zamakhsyary (الكشاف عن حقائق التنزيل و عيون الأقاويل في وجوه التأويل )
  2. Tafsir syiah “Dua belas” seperti (مرأة الأنوار و مشكاة الأسرار للمولي عبد اللطيف الكازاراني ) jugaمع البيان لعلوم القران لأبي الفضل الطبراسي
  3. Tafsir As-Sufiyah dan Al-Bathiniyyah seperti tafsir حقائف التفسير للسلمي و عرائس البيان في حقائق القران لأبي محمد الشيرازي

 

SYARAT DAN ADAB PENAFSIR AL-QUR’AN

 

Untuk bisa menafsirkan al-Qur’an, seseorang harus memenuhi beberapa kreteria diantaranya:

 

1)- Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan al-Qur’an.

 

2)- Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.

 

3)- Mengikuti urut-urutan dalam menafsirkan al-Qur’an seperti penafsiran dengan al-Qur’an, kemudian as-sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabi’in.

 

4)- Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya, karena al-Qur’an turun dengan bahasa arab. Mujahid berkata; “Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (al-Qur’an) jikalau tidak menguasai bahasa arab“.

 

5)- memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna ataumengistimbat suatu hukum sesuai dengan nusus syari’ah,

 

6)- Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an seperti ilmu nahwu(grammer), al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya), al-ma’anial-bayan, al-badi’, ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam al-Qur’an), aqidah shaihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukhfiqh, hadits, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan.

 

Adapun adab yang harus dimiliki seorang mufassir adalah sebagai berikut :

 

  1. Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari keridloan Allah semata. Karena seluruh amalan tergantung dari niatannya (lihat hadist Umar bin Khottob tentang niat yang diriwayatkan oleh bukhori dan muslim diawal kitabnya dan dinukil oleh Imam Nawawy dalam buku Arba’in nya).
  2. Berakhlak mulia, agar ilmunya bermanfaat dan dapat dicontoh oleh orang lain
  3. Mengamalkan ilmunya, karena dengan merealisasikan apa yang dimilikinya akan mendapatkan penerimaan yang lebih baik.
  4. Hati-hati dalam menukil sesuatu, tidak menulis atau berbicara kecuali setelah menelitinya terlebih dahulu kebenarannya.
  5. Berani dalam menyuarakan kebenaran dimana dan kapanpun dia berada.
  6. Tenang dan tidak tergesa-gesa terhadap sesuatu. Baik dalam penulisan maupun dalam penyampaian. Dengan menggunakan metode yang sistematis dalam menafsirkan suatu ayat. Memulai dari asbabunnuzul, makna kalimat, menerangkan susunan kata dengan melihat dari sudut balagho, kemudian menerangkan maksud ayat secara global dan diakhiri dengan mengistimbat hukum atau faedah yang ada pada ayat tersebut.

 

 

 

CONTOH KITAB TAFSIR DAN METODOLOGI PENULISANNYA

 

Nama Kitab : جامع البيان في تفسير أي القران atau yang lebih dikenal dengan

 

tafsir al-Tabary.

 

Pengarangnya : Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thobary (224 – 310 H)

 

Jumlah jilid : 12 jilid besar.

 

Keistimewaannya : Tafsir ini merupakan referensi bagi para mufassirin terutama penafsiran binnaqli/biiriwayah. Tafsir bil aqli karena istinbath hukum, penjabaran berbagai pendapat dengan dan mengupasnya secara detail disertai analisa yang tajam. Ia merupakan tafsir tertua dan terbagus.

 

Metodologi Penulisannya:

 

Penulis menafsirkan ayat al-Qur’an dengan jelas dan ringkas dengan menukil pendapat para sahabat dan tabi’in disertai sanadnya. Jikalau dalam ayat tersebut ada dua pendapat atau lebih, di sebutkan satu persatu dengan dalil dan riwayat dari sahabat maupun tabi’in yang mendukung dari tiap-tiap pendapat kemudian mentarjih (memilih) diantara pendapat tersebut yang lebih kuat dari segi dalilnya. Beliau juga mengii’rob (menyebut harakat akhir), mengistimbat hukum jikalau ayat tersebut berkaitan dengan masalah hukum. Ad-Dawudy dalam bukunya “Thobaqah al-Mufassirin“ mengomentari metode ini dengan ungkapannya:“ Ibnu jarir telah menyempurnakan tafsirnya dengan menjabarkan tentang hukum-hukum, nasih wal mansuh, menerangkan mufrodat (kata-kata) sekaligus maknanya, menyebutkan perbedaaan ulama’ tafsir dalam masalah hukum dan tafsir kemudian memilih diantara pendapat yang terkuat, mengi’rob kata-kata, mengkonter pendapat orang-orang sesat, menulis kisah ,berita dan kejadian hari kiamat dan lain-lainnya yang terkandung didalamnya penuh dengan hikmah dan keajaiban tak terkira kata demi kata, ayat demi ayat dari isti’adzah sampai abi jad (akhir ayat). Bahkan jikalau seorang ulama’ mengaku mengarang sepuluh kitab yang diambil dari tafsir ini, dan setiap kitab mengandung satu disiplin keilmuan dengan keajaiban yang mengagungkan akan diakuinya (karangan tersebut).

 

 

 

2. Tafsir Ibnu Katsir

 

Nama kitab : تفسير القران العظيم lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir.

 

Jumlah jilid : 4 Jilid

 

Nama penulis : Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Amr bin Katsir (w 774 H)

 

Keutamaanya : Merupakan tafsir terpopuler setelah tafsir At-Thobary dengan

 

metode bil ma’tsur.

 

Metodologi penulisannya:

 

Penulis sangat teliti dalam mentafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menukil perkataan para salafus sholeh. Ia menafsirkan ayat dengan ibarat yang jelas dan mudah dipahami. Menerangkan ayat dengan ayat yang lainnya dan membandingkannya agar lebih jelas maknanya. Beliau juga menyebutkan hadits-hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut dilanjutkan dengan penafsiran para sahabat dan para tabi’in. Beliau juga sering mentarjih diantara beberapa pendapat yang berbeda, juga mengomentari riwayat yang shoheh atau yang dhoif(lemah). mengomentari periwayatan isroiliyyat. Dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, ia menyebutkan pendapat para Fuqaha (ulama’ fiqih) dengan mendiskusikan dalil-dalilnya, walaupun tidak secara panjang lebar. Imam Suyuthy dan Zarqoni menyanjung tafsir ini dengan berkomentar ;” Sesungguhnya belum ada ulama’ yang mengarang dalam metode seperti ini “.

 

 

 

3. Tafsir Al-Qurtuby

 

Nama kitab : الجامع لأحكام القران

 

Jumlah jilid : 11 jilid dengan daftar isinya.

 

Nama penulisnya : Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtuby (w 671 H).

 

Keutamaanya : Ibnu Farhun berkata,” tafsir yang paling bagus dan paling

 

banyak manfaatnya, membuang kisah dan sejarah, diganti

 

dengan hukum dan istimbat dalil, serta menerangkan I’rob,

 

qiroat, nasikh dan mansukh”.

 

Metode penulisannya :

 

Penulis terkenal dengan gaya penulisan ulama’ fiqih., dengan menukil tafsir dan hukum dari para ulama’ salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing-masing. Dan membahas suatu permasalahan fiqhiyah dengan mendetil. Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, juga I’rob, qiroat, nasikh dan mansukh. Beliau tidak ta’assub (panatik) dengan mazhabnya yaitu mazhab Maliki.

 

 

 

4. Tafsir Syinqithy

 

Nama kitab : أضواء البيان في إيضاح القران بالقران

 

Jumlah jilid : 9 jilid.

 

Nama penulisnya : Muhammad Amin al-Mukhtar As-Syinqithy

 

Metodologi penulisannya:

 

Menekankan penafsiran bil-ma’tsur dengan dilengkapi qira’ah as-sab’ah dan qiro’ah syadz (lemah) untukistisyhad (pelengkap). Menerangkan masalah fiqih dengan terperinci, dengan menyebut pendapat disertai dalil-dalilnya dan mentarjih berdasarkan dalil yang kuat. Pembahasan masalah bahasa dan usul fiqih. Beliau wafat dan belum sempat menyelesaikan tafsirnya yang kemudian dilengkapi oleh murid sekaligus menantunya yaitu Syekh ‘Athiyah Muhammad Salim.

 

1 Adz-Dzahabi, at-Tafsir wa al-Mufassirun 1/13, Manna’ al-Qattan, Mabaahits fi Ulumi al-Qur’an hal : 323.

 

2 Abdul Hamid al-Bilaly, al-Mukhtashar al-Mashun min Kitab al-Tafsir wa al-Mufashirun, (Kuwait: Daar al-Dakwah, 1405) hal. 8

 

3 Marfu’ adalah perkataaan atau perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad

 

4 Mauquf adalah perkataan atau perbuatan yang disandarkan kepada para shohabat

 

5 majmu’ fatawa syaikhul Islam ibnu taimiyah 13/370 dan buku mabahits fi ulumul al-

 

qur’an ole mann’ al-qotton hal ; 340-342

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.